Pages

Senin, 23 Februari 2015

Meriahnya Festival Ogoh-Ogoh Di Bali

Setiap menjelang hari raya nyepi masyarkat hindu di Bali selalu menjalani sejumlah ritual yang memilki hakikat sebagai upaya pensucian diri. 2 atau 4 hari sebelum nyepi, masyarakat menyucikan diri dari perangkat peribadahan melalui upacara Melasti. Sedangkan satu hari tepat sebelum nyepi selalu dilakuan ritual Bhuta Yajna atau sering juga disebut Buta Yadnya. Buta yadnya sendiri adalah serangkaian upacara untuk menghalau hadirnya buta kala yang dianggap sebagai manifestasi dari unsur-unsur negatif dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Dalam rangkaian ritual tersebut terdapat juga tradisi pawai ogoh-ogoh yang telah menjadi festival tahunan yang selalu marak dan memiliki daya tarik luar biasa bagi sektor pariwisata.
 

Ogoh-ogoh adalah sebuah karya seni  berupa patung dalam kebudayaan Bali yang memiliki gambaran  sebagai kepribadian Bhuta Kala. Dalam sebuah ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala memiliki representasi kekuatan Bhu  atau alam semesta dan kala yaitu waktu. Dan semua itu tak terukur dan tidak terbantahkan.
 

Bhuta Kala dalam wujud patung sering digambarkan sebagai sosok yang sangat besar dan menakutkan dan biasanya berwujud raksasa. Tetapi tidak hanya wujud raksasa, ogoh-ogoh terkadang sering juga digambarkan dalam sebuah wujud mahluk yang hidup di Mayapada atau surga dan neraka seperti, Widyadari, Gajah, Naga bahkan seiring dengan perkembangan zaman terkadang ada juga yang berbentuk menyerupai orang-orang atau tokoh terkenal seperti dari kalangan selebritis, pemimpin dunia, penjahat dan bahkan tokoh agama. Terkait dengan hal tersebut bahkan  sering berbau SARA atau berbau Politik yang pada akhirnya menurut beberapa tokoh hal tersebut sudah menyimpang dari prinsip dasar sebuah ogoh-ogoh.
 

Ogoh-ogoh dalam fungsi utamanya yang merepresentasikan Bhuta Kala selalu dibuat menjelang Hari Nyepi lalu kemudian diarak beramai-ramai keliling desa pada hari menjelang senja sehari sebelum nyepi.
 

Para cendikiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ogoh-ogoh ini melambangkan keinsyafan manusia terhadap kekuatan alam semesta dan kekuatan waktu yang maha dahsyat. Kekuatan tersebut merupakan kekuatan Bhuana Alit yang disebut juga diri manusia dan kekuatan Bhuana Agung yang disebut juga sebagai alam semesta.
 

Buta Yadnya memiliki 2 tahapan yaitu Ngerupuk (pengerupukan) dan mecaru (pecaruan). Ngerupuk adalah ritual yang dilakukan dengan cara berkeliling ke pemukiman sambil membunyikan bunyian-bunyian yang disertai dengan penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa ataupun obor secara beramai ramai. Sedangkan mecaru merupakan upacara persembahan berupa sesajian yang biasa disebut juga dengan caru kepada buta kala, upacara tersebut dilakukan dari tingkatan kota, kecamatan kabupaten sampai provinsi dan juga tingkatan keluarga. Pada ritual ngerupuk biasanya dilakukan bersamaan dengan dilakukannya arak-arakan ogoh-ogoh yang memilki tujuan agar buta kala serta unsur-unsur negatif lainnya dapat menjauh dan tidak lagi mengganggu kehidupan manusia.